|
OSTEOPOROSIS BUKAN LAGI ANCAMAN
Penelitian di Amerika, pada usia 50 tahun, 1 dari 4 wanita, 1 dari 8 pria menderita Osteoporosis.
Sejak meningkatnya angka harapan hidup manusia di Indonesia, semakin banyak kasus osteoporosis pada manusia usia lanjut.
Osteoporosis adalah penyakit dengan ciri khas berupa rendahnya massa tulang yang disertai perubahan-perubahan mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang akhirnya meningkatkan kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang. (WHO, International Consensus Development Conference, Roma Italia 1992).
|
|
Tulang Padat |
Tulang Osteoporosis |
Jaringan tulang mengalami proses Turn Over atau Bone Remodeling Cycle. Tulang mengalami proses resorpsi (menghilangnya sejumlah kecil tulang) melalui kerja osteoklast dan formasi (pembentukan) tulang baru melalui kerja osteoblast.
Setelah usia 30 tahun, jaringan tulang yang hilang lebih banyak dibandingkan yang dibentuk.
Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh.
Pria maupun wanita akan mengalami penurunan massa tulang saat usia menginjak 30 tahun, tetapi wanita lebih cepat mengalaminya. Pada usia 80 tahun, massa tulang trabekular wanita berkurang 40%, pria 13%.
Menopause dan usia lanjut adalah penyebab utama osteoporosis, penyebab lainnya adalah:
- |
Pemakaian obat-obatan kortikosteroid, gangguan metabolisme, anorexia |
- |
Absorbsi yang buruk |
- |
Penyakit: tulang sumsum, gangguan fungsi ginjal, hepatik, transplantasi organ |
| - |
Gaya hidup (merokok, minum kopi). |
80% penderita osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Osteoporosis disebut silent disease karena proses kepadatan tulang berkurang secara perlahan dan berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa disadari dan tanpa disertai adanya gejala.
Gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti nyeri berkepanjangan dan tak kunjung hilang, mudah patah tulang terutama tulang pinggul, punggung yang nyeri & semakin membungkuk, hilangnya tinggi badan.
Penegakkan diagnosa Osteoporosis :
- Rontgen, terjadi proses pengerasan tulang (demineralisasi) pada tulang panggul atau tulang belakang
- DEXA (Dual X-Ray Absorbtiometry), ditentukan dengan T-Score .
T-Score |
Kategori |
Lebih besar dari -1 |
Normal |
-1 s.d -2,5 |
osteopenia
|
Lebih kecil dari -2,5
|
osteoporosis
|
Kriteria WHO |
Tips Mencegah & Mengatasi Osteoporosis
Patah tulang akibat osteoporosis mengganggu kualitas kehidupan penderita dan memerlukan biaya pengobatan yang relatif mahal, sehingga cegahlah sedini mungkin, seperti:
- Cukupi kebutuhan kalsium harian, usia produktif = 1000 mg kalsium per hari, usia lansia = 1200 mg per hari.
- Berjemur 30 menit pada pagi hari dan sore hari.
- Melakukan olah raga dengan beban.
- Gaya hidup sehat, menghindari rokok dan alkohol. Kurangi konsumsi kopi, minuman bersoda, daging merah.
- Ibu hamil mengkonsumsi kalsium dengan cukup sehingga tulang bayi dalam kandungan tumbuh optimal dan tidak mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu.
- Untuk mengatasi rasa sakit, penderita osteoporosis diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik .
- Konsumsi obat-obatan (kondisi tertentu), seperti estrogen, terapi sulih estrogen, dll.
Sumber:
Detail Kesehatan medicastore "Osteoporosis"
Nutrilife DEER VELVET
Cegah & Atasi OSTEOPOROSIS
Untuk mencegah osteoporosis, pada wanita diperlukan terapi estrogen sintetik. Namun, terapi hormon berisiko keganasan. Kini ada suplemen osteoporosis yang dapat meningkatkan kadar estrogen dan kepadatan tulang tanpa efek samping.
Ahn, dkk (1994) meneliti efek pemberian ekstrak air Deer Velvet dari New Zealand pada ovarium tikus betina yang telah diangkat. Hasilnya menunjukkan ovarium tikus yang dirawat dengan deer velvet memiliki tulang yang bermineral lebih banyak dibandingkan kontrol yang tidak dirawat dengan deer velvet.
Penelitian lebih lanjut oleh Shim dan Ahn (1999) menggunakan ekstrak air deer velvet, kepadatan tulang diukur dalam ovarium utuh tikus kontrol dan tikus yang telah diangkat ovariumnya dan dirawat secara oral dengan deer velvet dan larutan garam. Deer velvet efektif menjaga kepadatan tulang (tulang kering/tibia) setelah pengangkatan ovarium pada tingkat yang hampir sama dengan kontrol ovarium utuh tikus. Sebaliknya, kepadatan tulang menurun pada ovarium tikus yang telah diangkat dan tidak diberikan deer velvet.
Sehinga suplemen osteoporosis Nutrilife Deer Velvet bekerja mengatasi osteoporosis dengan cara :
1. Meningkatkan kadar hormon estrogen Penggunaan rutin ekstrak Deer Velvet terbukti dapat menimbulkan kenaikan secara signifikan dari kadar Estradiol (hormon estrogen dalam darah) yang sangat berhubungan pada efek terapi terhadap osteoporosis.
(Department of Oriental Medicine Graduate School, Kyung Hee University, Seoul, Korea; National Live Stock Research Institute, Chung Nam, Korea).
2. Mempertahankan kadar hormon pertumbuhan (growth hormone)
Penurunan kadar Hormon Pertumbuhan dan IGF-1 (Insulin like Growth Factor – 1) menurunkan proses KALSIFIKASI (penyerapan kalsium) pada tulang yang dapat menyebabkan osteopenia (suatu keadaan yang bisa memicu terjadinya osteoporosis).
(Suttie JM, Haines SR. valuation of New Zealand Velvet Antler Efficacy and Diagnostic Testing. AgResearch, Invermay Agricultural Centre, Mosgiel, New Zealand, pp 32-33).
Nutrilife DEER VELVET melindungi tulang anda terhadap OSTEOPOROSIS, tanpa efek samping seperti Terapi Sulih Hormon.
|
|
|